*****
Aku
tidak pernah terlalu tua untuk nonton film Barbie, dan ketika ada yang
menanyakan? Kapan aku berhenti nonton film Barbie dengan senang hati akan
kujawab dengan ‘ntar kalo aku sudah dikutuk jadi Barbie yang ketemu Ken yang
jadi Prince Charming, hehehe.’ Artinya, takkan pernah!
Judulnya
saja membuatku jatuh cinta! Barbie in The Pink Shoes! Sepatu?
Cewek mana sih
yang tidak suka sepatu? (tapi aku sebal dengan ukuran kakiku yang membuatku
kesulitan mendapatkan sepatu, tapi yeah aku suka sepatu!) Sebelum si Barbie
Krystin, beberapa dongeng terkenal lainnya telah menggunakan keajaiban sang sepatu
sebagai salah satu benda ajaib dalam kisahnya, sebut saja kisah cinta fenomenal
Cinderella dan juga Dorothy dari Wizard of Oz (berharap seperti Cinderella ketika
Prince Charmingku melamar, lupakan soal cincin, aku ingin dilamar dengan
sepasang sepatu indah! Dongeng sungguh mempengaruhi hidupku! Hehehe). Yeah
kejaiban berasal dari sepatu balet berwarna Pink!
![]() |
Petualangan dimulai! |
![]() |
Terjebak di kisah Swan Lake |
Film
ini diawali dengan gladi resik sebelum pertunjukan balet yang akan dihadiri
pencari bakat untuk itu Madame Natasha benar-benar berharap penampilan anak-anak
didiknya harus Semmmmmpurna! Madame Natasha sangat terobsesi dengan
kesempurnaan. Cuma seseorang yang membuat Madame Natasha bangga dengan
kesempurnaannya, jelas bukan si Barbie Krystin! Tapi Tara. Krystin sama sekali
bukan favorite madame Natasha, Krystin sungguh payah! Dia menari sesuka hati,
dia membiarkan melodi membiarkan kaki-kakinya menari sendiri. Itu bencana
karena madame Natasha benci itu dan....lupakan soal para pencari bakat yang
akan memilihnya, masih ada Tara yang sempurna dan juga....sial! di saat gladi insiden
menimpah Krystin dan sepatu baletnya rusak.